Jika bank central mencetak uang (tentunya tanpa kucuran keringat coy..) untuk suatu negara dalam jumlah yang terlalu banyak, yang akan terjadi bukannya masyarakat makin sejahtera. Tapi justru melambungnya harga barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.
Dengan naiknya harga barang, otomatis nilai / daya beli uang tersebut makin rendah. Dan harga impor (negara membeli produk kebutuhannya dari luar) naik lebih cepat dari harga ekspor (negara menjual produknya keluar). Bila di suatu negara terus menerus mengalami ini , maka secara otomatis daya beli dari mata uang akan melemah dan bernilai rendah.
riba , inflasi , dan nilai tukar sangat berhubungan erat. Dimana dengan merubah tingkat “riba” oleh bank sentral suatu negara maka bisa mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uangnya.
Jika bank menaikkan harga “riba” agak lebih tinggi akan menyebabkan permintaan mata uang negara tersebut meningkat sehingga pembuatan uang harus diperbanyak jumlahnya. (SIMSALABIM ABRAKADABRA ...kini jumlah uang menjadi banyak) .
Keadan itulah yang menyebabkan perbedaan harga dimana ditahun 90-an uang Rp. 500,- masih bisa membeli 10 pisang goreng namun kini uang yang sama hanya mampu membeli satu butir permen yang bentuknya seupil. Dan anehnya keadaan seperti ini malah dibilang keadaan zaman modern.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar